Showing posts with label TNI-AL. Show all posts
Showing posts with label TNI-AL. Show all posts

Sunday, August 23, 2009

Kasal: Sail Bunaken Berjalan Sukses

JAKARTA, KOMPAS.com - Sail Bunaken yang diikuti oleh sejumlah angkatan laut negara-negara di dunia telah selesai diselenggarakan dan dinilai sukses. Salah satu nilai penting dari digelarnya acara tersebut, menurut Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno adalah, dihasilkannya kesepakatan untuk menjaga laut sebagai aset dunia dari para negara-negara peserta.

"Ya, di dalam acara tersebut yang dinilai sebagai acara penting telah menghasilkan kesepakatan dari seluruh peserta Sail Bunaken untuk bersama-sama dengan saling berkoordinasi antar negara untuk menjaga keamanan laut secara baik, dengan tetap mengacu kepada hukum internasional yang telah disepakati," ujar Kasal saat jumpa pers di kediamannya di Jakarta, Minggu (23/8).

TNI AL bekerjasama dengan Departemen Kelautan dan Perikanan pada 12-20 Agustus lalu menyelenggarakan sebuah event spektakuler bertaraf internasional yang bernama Sail Bunaken di Manado dan Bitung, Sulawesi Utara. Kegiatan tersebut mencakup beberapa kegiatan di antaranya olah raga bahari, kirab kota, seminar serta parade kapal perang internasional atau disebut dengan Internasional Fleet Review 2009 (IFR 09).

Di sisi lain Kasal menilai, penyelenggaraan event Sail Bunaken telah berjalan secara sukses. Hal ini, menurutnya, tercermin dari banyaknya jumlah peserta yang hadir, yaitu 33 negara dan banyaknya jumlah kehadiran kapal perang negara-negara tersebut.

"USA mengirimkan kapak induk George Washington dan bersedia ikut dalam formasi, ini sangat langka dan jarang terjadi," ujarnya. Selain itu, keberhasilan Indonesia dalam memecahkan 2 rekor dunia di event tersebut, menurut Kasal, sesuatu yang amat membanggakan.

Khusus untuk pemecahan rekor dunia selam dengan upacara hari spektakuler RI 64 di dasar laut merupakan kegiatan yang spektakuler. "Manajer juri dari Guinnes World of Record Inggris atas nama Miss Lucia saja menyatakan wonder, miracle, bisa membuat upacara sedemikian besar di dalam laut tanpa accident," katanya.

Kapal Selam TNI AL Jalani Pemeliharaan di Korsel

Jakarta (ANTARA news) - Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno mengungkapkan, kapal selam KRI Naggala 402 akan menjalani pemeliharaan berat (overhaul) di Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering Co Ltd (DSME), Korea Selatan.

"Pelaksanannya akan berjalan mulai bulan depan, selama 22 bulan," katanya, dalam obrolan santai di kediaman dinasnya di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan, dengan overhaul, maka kemampuan kapal selam tersebut dapat diperbaharui hingga pada kondisi awal dimana rata-rata kesiapan mencapai 100 persen.

"Yang penting dari program overhaul itu, selain murah, juga dapat mengembalikan kekuatan kapal selam bersangkutan hingga dapat difungsikan secara maksimal sebagai alat utama sistem senjata (alutsista) strategis TNI, " kata Tedjo.

TNI Angkatan Laut sebelumnya telah melakukan overhaul terhadap KRI Cakra dengan nonor lambung 401 di perusahaan yang sama sehingga perangkat teknologinya yang buatan 1970-an, kini tampil lagi dengan teknologi 1990-an

Pada kesempatan itu, Kasal menegaskan, TNI Angkatan Laut ingin memiliki kapal selam yang memiliki kemampuan tempur dan daya tangkal sejajar dengan negara lain, seperti Malaysia dan Singapura.

"Bahkan kapal selam kita yang baru, kalau bisa melebihi kemampuan tempur dan daya tangkal yang dimiliki negara lain. Misalnya, Malaysia, kini memiliki kapal selam pertama jenis Scorpene yang diluncurkan di Prancis, beberapa waktu lalu. Ya.. kita harus punya yang lebih dari Scorpene. Kalau tidak lebih baik, tidak usah beli," tuturnya.

Kasal menegaskan, keberadaan kapal selam tidak semata sebagai alat utama sistem senjata strategis, melainkan sebagai alat yang dapat memberikan efek tangkal yang mendukung posisi tawar Indonesia.

Pada 2011, pemerintah menjanjikan dua kapal selam baru bagi TNI Angkatan Laut. Namun, hingga kini Departemen Pertahanan belum memutuskan jenis dan dari negara mana kapal selam akan diadakan.

TNI AL dan AL Timor Leste Jajaki Kerja Sama

Jakarta (ANTARA News) - TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut Republik Demokratik Timor Leste menjajaki kerja sama, mulai dari pendidikan, pertukaran perwira hingga latihan bersama.

"Mereka (Angkatan Laut Timor Leste-red) ingin berguru pada Angkatan Laut Indonesia," kata Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno di kediaman dinasnya di Jakarta, Minggu.

Keinginan AL Timor Leste untuk menjajaki kerja sama dengan TNI AL terungkap dalam pertemuan bilateral Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno dengan Kepala Staf Angkatan Laut Timor Leste Letkol Donaciano Gomes, di sela-sela penyelenggaraan "Sail Bunaken 2009" di Manado medio pekan lalu.

Menanggapi keinginan AL Timor Leste itu, Laksamana TNI Tedjo mengatakan, pihaknya masih merumuskan bentuk kerja sama yang dapat dilakukan angkatan laut kedua negara.

Kemudian rumusan itu mejadi payung hukum dalam bentuk nota kesepahaman yang disetujui Departemen Pertahanan kedua negara.

Tentang kemungkinan pengaruh terhadap hubungan bilateral RI-Australia, Kepala Staf Angkatan Laut Tedjo Edhy mengatakan, hal itu tidak perlu dikhawatirkan mengingat angkatan laut RI-Australia juga sudah menjalin kerja sama yang baik, termausk dalam bentuk patroli bersama di wilayah perbatasan perairan kedua negara.

"Dalam patroli bersama antara angkatan laut RI dan Australia, ada sebagian wilayah patroli yang bersinggungan dengan wilayah Timor Leste, dan saat berpatroli kita dapat menggunakan Kupang atau Darwin sebagai titik singgah," kata Tedjo.

Di sela-sela penyelenggaran "Sail Bunaken 2009" yang dimeriahkan Parade Kapal Perang Internasional (International Fleet Review/IFR) itu, diadakan kunjungan kehormatan 16 kepala staf angkatan laut sejumlah negara kepada Kasal Laksamana TNI Tedjo Edhy.

Pertemuan bilateral antara kepala staf angkatan laut tersebut, memfokuskan pembahasan pada keamanan maritim regional khususnya di kawasan Asia Tenggara.

"Sebagian besar mereka menilai wilayah perairan Inonesia termasuk di Selat Malaka, sebagai daerah yang aman," demikian Laksamana TNI Tedjo Edhy

Pangarmabar Tinjau Pusat Latihan Tempur Pasukan Katak TNI-AL

Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI Soeparno baru-baru ini meninjau Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL yang terletak di Batu Menyan Lampung, dalam peninjauan tersebut Pangarmabar didampingi Danlanal Lampung, Danrem Garuda Hitam Lampung dan Wakapolda Lampung, usai peninjauan Pangarmabar juga berkesempatan meninjau jalannya Latihan K-2 Kopaska . Dalam peninjauan tersebut Pangarmabar melakukan penandatanganan Papan Lokasi Rencana pembangunan Puslatpur Kopaska yang meliputi Rawa Laut dan Gunung untuk menunjang profesionalisme Pasukan Katak TNI AL kedepan.

Thursday, August 20, 2009

Pemerintah Harapkan Kapal Asing Ikut Sail Ambon 2010


Manado ANTARA News) - Pemerintah Indonesia berharap sejumlah kapal perang, kapal layar (yacht) serta pesawat tempur yang berparade pada Sail Bunaken 2009 di Teluk Manado, bisa berpartisipasi lagi pada Sail Ambon 2010 di Provinsi Maluku.

"Sail Ambon akan digelar tahun 2010 dan sudah mendapat persetujuan Presiden, sehingga akan disukseskan secara optimal," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, di Manado, Kamis.

Kemeriahan Sail Bunaken yang dimulai 12-20 Agustus 2009, dengan berbagai kegiatan seperti "Sailing dan Flying Pass", Kirab Kota, Seminar Internasional dan sebagainya bisa membawa pengaruh positif masyarakat internasional.

Pemerintah optimistis tahun 2010 akan menjadi momentum di Ambon dengan kehadiran puluhan kapal perang dari berbagai Negara.

Bahkan tahun 2012 mendatang pemerintah telah menetapkan parade kapal perang di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sementara tahun 2011 belum dijadwalkan lokasinya.

Sejumlah kapal peserta Sail Bunaken yang diharapkan hadir di Ambon, yakni USS George Washington, USS Cowpens CG-63, Fitzgerald DDG 61, Mustin DDG 89, McCambel DDG 85 dari Amerika Serikat.

Kemudian diikuti KRI Sultan Hasanudin, Phuttaloetia Naphalai FF dan Rattanakosin FS441 (Thailand), HMS Echo dan INS Khukri P49 (Inggris), KD Kedah 171 dan KD Tunas Samudera (Malaysia), Manuel L Quezon PS 70 (Filipina), RSS Tenacious dan RSS Darling (Singapura).

"Coast Guard" Triton (Australia), INS Airavat (India), JDS Kashima, JDS Shimayuki, JDS Yuugiri (Jepang), Guang Zhou (Cina), ROKS Choi Young DDH, Dae Cheong (Korea), PNS Zulfiquar (Pakistan), FS La Somme (Perancis), HMNZS Canbterbury (Selandia Baru) serta beberapa KRI.

Wednesday, August 19, 2009

Kapal Perang - Yacht Ikuti 'Sailing Pass'

Kapanlagi.com - 27 kapal perang dan 165 kapal layar (yacht) dari sejumlah negara peserta Sail Bunaken, mulai bergerak dari Pelabuhan Bitung ke Teluk Manado, Sulawesi Utara (Sulut), guna mengikuti "Sailing dan Flying Pass" pada Rabu (19/8) sore.

"Sailing dan Flying Pass akan diterima langsung Menko Polhukam, Widodo AS mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, serta sejumlah pejabat negara di panggung utama Teluk Manado, "kata Kepala Biro Humas Pemprov Sulut, Roy Tumiwa, di Manado, Rabu (19/8).

Pejabat pemerintah yang hadir pada Sailing dan Flying Pass, antara lain Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, Panglima TNI Jend Joko Santoso, Gubernur Sulut SH Sarundajang, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Tedjo Edhy Purdijatno.

Di samping itu, juga hadir di panggung utama 122 jajaran Admiral (Laksamana) dari 33 negara peserta Sail Bunaken.

Sebanyak 27 kapal perang peserta Sailing dan Flying Pass, di antaranya USS George Washington, Cowpens CG-63, Fitzgerald DDG 61, Mustin DDG 89, McCambel DDG 85, semuanya dari Amerika Serikat.

Kemudian Phuttaloetia Naphalai FF dan Rattanakosin FS441 (Thailand), HMS Echo dan INS Khukri P49 (Inggris), KD Kedah 171 dan KD Tunas Samudera (Malaysia), Manuel L Quezon PS 70 (Filipina), RSS Tenacious dan RSS Darling (Singapura).

Coast Guard Triton (Australia), INS Airavat (India), JDS Kashima, JDS Shimayuki, JDS Yuugiri (Jepang), Guang Zhou (Cina), ROKS Choi Young DDH, Dae Cheong (Korea), PNS Zulfiquar (Pakistan), FS La Somme (Perancis), HMNZS Canbterbury (Selandia Baru) serta enam KRI dari Indonesia.

"Kegiatan Sailing dan Flying Pass diharapkan dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat, karena ini moment kegiatan yang jarang digelar di Indonesia," kata Tumiwa

Ambon Disiapkan Jadi Tujuan "Sail Indonesia" Berikutnya

Manado (ANTARA News) - Perairan Ambon, Maluku, direncanakan akan menjadi lokasi pelaksanaan ajang tahunan `Sail Indonesia` pada tahun 2010.

"Tahun depan ada rencana untuk melaksanakannya (Sail Indonesia-red) di Ambon. Lokasi yang disarankan adalah Laut Banda," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi di Manado, Senin.

Sail Indonesia setelah dilaksanakan di Bunaken, Sulut, menurut Freddy, akan diupayakan untuk diselenggarakan di daerah-daerah kepulauan lain di tanah air.

Perpindahan lokasi pelaksanaan acara ini, lanjut dia, bertujuan untuk mendongkrak perekonomian daerah-daerah kepulauan lain di tanah air.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara setelah pelaksanaan Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference-WOC) pada bulan Mei 2009 disusul dengan pelaksanaan Sail Bunaken Agustus 2009, mampu mencapai angka sekitar delapan persen.

"Walau tampaknya lebih banyak wisatawan domestik tapi minimal kegiatan ini mampu menggerakan perekonomian daerah setempat," kata Freddy menambahkan.

Karena itu, ia berharap Ambon dapat mengambil pelajaran dari pelaksanaan Sail Bunaken ini, sehingga ke depan Pemda setempat dapat menutup kekurangan pelaksanaan Sail Indonesia di Manado tahun 2009 ini.

Pemerintah Daerah (Pemda) diminta lebih tanggap terhadap penyediaan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta Sail Indonesia maupun wisatawan asing dan domestik yang berkunjung.

Ia menyarankan agar investor penunjang pariwisata tidak ragu berinvestasi karena jika belajar dari pelaksanaan WOC, maka dana yang dikeluarkan untuk membangun fasilitas oleh Pemda maupun swasta dapat kembali dalam waktu singkat.

"Kalau ada yang membangun hotel memang tidak langsung cepat kembali, tapi pada pelaksanaan WOC saja kemarin empat hingga lima persen saja sudah masuk," ujarnya.

Namun menurut Freddy, dari total investasi dari pemerintah dan swasta yang mencapai Rp1,8 triliun, dalam waktu singkat usai pelaksanaan WOC dana yang kembali akan mencapai Rp3 triliun.

"Untuk Sail Bunaken kita belum tahu berapa jumlah pemasukannya," ujar dia.

"Fleet Review" Kukuhkan Manado Sebagai Sentra Kelautan

Manado (ANTARA News) - Keberhasilan pelaksanaan "Internasional Fleet Review" (IFR) mengukuhkan Manado sebagai sentra perkembangan kelautan di dunia, kata pakar lingkungan hidup Emil Salim di Manado, Rabu.

"Acara ini baik sekali, setelah ada `World Ocean Conference` sekarang ada ini (Sail Bunaken) sehingga menempatkan Manado sebagai sentrum dari perkembangan kelautan dan perikanan, itu yang terpenting," katanya.

Setelah semua pelaksanaan ajang internasional tersebut, menurut dia, tugas pemerintah dibantu oleh masyarakat adalah menjadikan Manado sebagai sentra dari pusat ilmu kelautan di tanah air dan di dunia.

"Kita harus mendorong ilmu, sains, dan teknologi dari kelautan dan perikanan dengan menjadikan Universitas Sam Ratulangi dan seluruh Manado sebagai sentra dari pusat ilmu kelautan dari seluruh Indonesia," ujar dia.

Sekarang, lanjut dia, dunia telah mengetahui bahwa Manado adalah pusat kelautan. Jika ingin mengembangkannya, pemerintah harus mendukung tiga bidang yakni ilmu, sains, dan teknologi.

"Saya harap mata anak-anak muda terbuka setelah melihat kapal-kapal yang mengikuti `fleet review`," kata Emil.

Apa yang dilihat dalam IFR, menurut Emil, adalah variasi teknologi kapal yang harus bisa dikembangkan di tanah air.

"Kapal layar maupun kapal perang bermacam bentuknya. Pemahaman teknologi yang harus kita kembangkan," katanya.

Mengenai pelaksanaan Sail Indonesia yang dikemas dalam Sail Bunaken 2009, Emil mengatakan semakin menunjukan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan terbesar.

Peringatan Kemerdekaan Di Bawah Laut

Sejumlah penyelam TNI AL mengibarkan bendera merah putih di bawah laut saat peringatan detik detik proklamasi kemerdekaan RI ke-64 di perairan Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, Senin (17/8). Upacara bawah laut tersebut merupakan rekor dunia pertama sekaligus memecahkan kembali rekor dunia penyelaman massal dengan jumlah penyelam 2486 orang.

Upacara peringatan detik-detik proklamasi 17 Agustus 2009, di bawah laut Pantai Malalayang, Manado Sulawesi Utara (Sulut)juga diisi dengan atraksi oleh taruna Akademi Angkatan Laut (AAL).

Sepanjang jalan dan pantai Malalayang, Manado, Senin, dipenuhi ribuan orang yang ingin menyaksikan penyelaman dan upacara bawah laut yang dilakukan lebih dari dua ribu penyelam.

Petuga keamanan terpaksa menutup sementara arus jalan yang menuju kawaan tersebut, selama berlangungnya kegiatan yang berlangsung lebih daridua jam.

Sementara itu, atraksi yang tak kalah meriahnya dan menarik perhatian publik setempat, yaitu atreaksi marching band yang dilakukan para taruna AAL di sepanjang jalan Malalayang.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Iskandar Sitompul menjelaskan, atraksi dari kadet tersebut merupakan bagian untuk memeriahkan HUT kemerdekaan RI.

“Para kadet itu kelompok genderang Suling Gita Jala AAL memainkan dua lagu nasional untuk menghibur para penonton serta seluruh peserta upacara,” kata Kadispenal Iskandar Sitompul.

Para kadet itu menurut Sitompul dibagi menjadi dua grup, satu para kadet grup yang lainnya adalah personel TNI AL. Selesai melakukan atraksi seluruh kadet langsung kembali ke kapal yang ditambatkan di Bitung, dan istirahat untuk menunggu Kirab kota yang akan dilakukan, saat Presiden RI sebagai panglima tertinggi TNI datang ke Manado

122 Admiral Peserta Sail Bunaken Hadiri Upacara HUT RI

Sebanyak 122 Admiral (Laksamana) dari 33 negara peserta Sail Bunaken, menghadiri upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-64, di halaman Kantor Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), 17 Agustus 2009, Manado, Senin [17/08] .

Upacara yang dipimpin langsung Gubernur Sulut, SH Sarundajang itu, para admiral langsung berbaur dengan jajaran tamu dan pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut.

Admiral negara-negara sahabat itu terdiri dari delegasi Amerika Serikat, Australia, Inggris, Filipina, Brunei, India, Kamboja, Malaysia, Nigeria, Selandia Baru, Pakistan, Portugal, Cina, Thailand, Singapura, dan Timor Leste.

Brazil, Rusia, Prancis, Korea Selatan, Jepang, Turki, Cili, Bangladesh, Kanada, Belanda, Arab Saudi, Iran, Italia, Peru, Suriah serta Papua Nugini, termasuk tuan rumah Indonesia.

Sail Bunaken yang digelar di Pantai Manado – Bitung tanggal 12-20 Agustus 2009, diikuti puluhan kapal perang, pesawat tempur serta 165 kapal layar (yacht). “Ini merupakan moment bersejarah di Sulut ketika para pimpinan Angkatan Laut beberapa negara ikut menghadiri HUT RI di Manado,” kata Kepala Biro Pemerintahan dan Humas Pemprov Sulut, Roy Tumiwa. Sementara itu, Real Admiral Comander Jepang (setingkat Kasal), M Kawamura mengatakan, peringatan HUT RI memiliki makna berarti bagi bangsa Indonesia, berlangsung hikmah. Kehadiran pada peringatan HUT Kemerdekaan RI itu, merupakan pertama kali bagi jajaran Angkatan Laut Jepang di Indonesia, katanya.

Saturday, August 15, 2009

Soal Karakter Terlupakan; Perhatikan Visi Kelautan dalam Pendidikan

Jakarta, Kompas - Pengalaman pendidikan perwira pascaperang kemerdekaan di Belanda yang dijalani ratusan teruna meninggalkan pesan yang masih relevan untuk bangsa ini, antara lain, pembentukan karakter dan memerhatikan visi kelautan dalam pendidikan kehidupan bangsa.

Demikian diungkapkan Laksamana Pertama TNI (Purn) Eddy Tumengkol, Ketua Tim Penulis buku Dan Toch Maar terbitan Penerbit Buku Kompas yang diluncurkan di Jakarta, Jumat (14/8). Buku yang sebelumnya diterbitkan di Belanda pada Juni lalu merangkum pengalaman kolektif kadet Angkatan Laut Indonesia yang menjalani pendidikan di Koninklijk Instituut Voor de Marine (KIM) atau lembaga pendidikan tertinggi dari Angkatan Laut Belanda.

Eddy menjelaskan Dan Toch Maar dalam bahasa Belanda bisa diartikan ’maju terus’. Semangat itu untuk menggambarkan tekad tentara Indonesia yang menjalani pendidikan militer di negeri penjajah sebagai salah satu hasil keputusan dari Konferensi Meja Bundar tahun 1949.

”Kami mengalami perpeloncoan, tetapi bukan dalam artian pelampiasan rasa dendam dari senior kepada yunior yang membabi buta. Dalam pendidikan yang dijalani itu, pembentukan karakter para teruna menjadi persoalan paling utama,” ujar Eddy Tumengkol.

Kembali ke visi kelautan

Penulisan buku itu juga dimaksudkan untuk kembali mengingatkan bangsa ini agar kembali kepada visi kelautan. Indonesia mesti menjadikan laut sebagai hal yang penting dalam pembangunan. Penekanan kembali visi kelautan yang paling efektif antara lain melalui pendidikan.

Saleh A Djamhari, sejarawan yang selama 30 tahun meneliti sejarah TNI, mengatakan, cerita mengenai teruna yang menjalani pendidikan perwira di KIM itu tidak banyak diungkap.

”Mereka susah payah menjalani pendidikan, tetapi saat kembali ke Tanah Air justru dianggap antek-antek Belanda. Ceritanya bukan dari sumber-sumber tertulis, tetapi dari cerita lisan para pelaku. Buku sejarah model ini sangat menarik dan berguna,” kata Saleh.

Jaleswari Pramodhawardani dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengatakan bahwa kekuatan tentara tidak hanya pada teknologi militer. Yang penting justru pada kekuatan karakter tentara. ”Namun, kerusakan karakter itu terjadi jika tentara sudah masuk politik dan bisnis,” ujar Jaleswari.

USS George Washington Akan Bersandar di Manado

Liputan6.com, Malalayang: Kegiatan International Sail Bunaken di Pantai Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, akan semakin meriah dengan kehadiran kapal induk milik Amerika Serikat (AS), USS George Washington. Rencananya, kapal induk tersebut akan berlabuh di perairan Bunaken, Manado, pada 18 Agustus mendatang.

Reproter Liputan6 SCTV, Nova Rini, Ahad (16/8), melaporkan, kehadiran George Washington ini dalam rangka mengikuti acara parade kapal perang yang termasuk dalam rangkaian acara yang berlangsung selama 12-20 Agustus 2009. Kehadiran kapal perang yang sudah melintasi sejumlah negara dan perairan samudera ini memang dinanti-nanti warga Manado dan sekitarnya.

Selain diikuti kapal perang dari AS, parade kapal perang kali ini juga akan diikuti sejumlah delegasi dan kapal perang dari negara seperti Australia, India, Inggris, Malaysia, Rusia. Sedangkan Arab Saudi, Bangladesh, Belanda, Brunei Darussalam, Chili, Iran hanya mengirim perwakilannya.

International Sail Bunaken sendiri pertama kali digelar pada 2008 lalu. Beragam kegiatan juga akan digelar pada perhelatan akbar International Sail Bunaken 2009, seperti olahraga bahari, seminar, wisata kuliner, parade kapal perang internasional atau disebut IFR 09 (Indonesian Fleet Review), serta penyelaman massal dengan jumlah peserta terbanyak di dunia

Indonesia Pecahkan Rekor Penyelaman Massal

Liputan6.com, Malalayang: Indonesia akhirnya berhasil memecahkan rekor dunia penyelaman massal terbanyak dalam acara International Sail Bunaken di Pantai Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, Ahad (16/8) waktu setempat. Tercatat, sekitar 2.818 penyelam dari berbagai wilayah ikut serta dalam kegiatan tersebut.

Berdasarkan laporan reporter Liputan 6 SCTV, Nova Rini, hingga kini seluruh penyelam telah bersiaga di dasar laut dengan kedalaman 15 meter. Suasana air laut agak terlihat keruh lantaran para peserta baru saja turun ke dasar laut, sehingga pasir mulai naik dan mengganggu pandangan [baca: Jelang Pemecahan Rekor Penyelaman Massal].

Rencananya, selain dalam rangka memecahkan rekor dunia dengan jumlah penyelaman massal terbanyak, para penyelam juga akan menggelar upara bendera memeperingati Hari Ulang Tahun ke-64 Republik Indonesia. Rangkaian upacara bendera juga sama dengan upacara bendera yang biasa dilakukan di daratan. Misalnya, kehadiran komandan upacara, pengibaran bendera Merah putih, mengeheningkan cipta, serta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Sebelumnya, rekor penyelaman massal terbanyak dipegang oleh Inggris dengan jumlah penyelam sekitar 900-an orang. Jumlah penyelam kali ini pun telah melampaui jumlah peserta yang didaftarkan untuk pemecah rekor dunia, yakni 1.500 orang

Monday, August 10, 2009

KSAL Luncurkan Buku 50 Tahun Pengabdian Hiu Kencana

JAKARTA (Suara Karya): Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno, meluncurkan buku 50 Tahun Pengabdian Hiu Kencana, di Jakarta, Senin (10/8). Ini menandai setengah abad terbentuknya satuan kapal selam TNI Angkatan Laut setengah abad lalu.

Satuan Kapal Selam TNI AL dibentuk pada 12 September 1959, saat dua kapal selam pertama kelas Whiskey buatan Uni Sovyet yang kemudian dikukuhkan sebagai RI Tjakra S-01 dan RI Nanggala S-02, resmi memperkuat jajaran Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI).

Lima tahun berikutnya, pemerintah membeli kapal selam dari jenis yang sama, hingga berjumlah 12 unit yang menjadikan ALRI sebagai negara dengan jumlah kapal selam terbesar di Asia saat itu.

Peran satuan kapal selam sangat siginifikan dalam Operasi Trikora melawan Belanda di Irian Barat, dan Operasi Dwikora (konfrontasi melawan Malaysia). Kapal selam dalam operasi tersebut, memberikan dampak penangkalan luar biasa terhadap negara-negara yang menjadi lawan Indonesia.

Belanda yang mempertahankan pasukannya di Irian Jaya terpaksa menghitung kembali kekuatannya jika harus bertempur dengan ALRI. Dalam Operasi Dwikora melawan Malaysia yang didukung negara-negara Barat, terpaksa harus memadukan kekuatan tempurnya menghadapi Indonesia.

Sedangkan dalam Operasi Seroja, satuan kapal selam bertugas menjaga perairan Timor dari infiltrasi asing. Terutama, di perairan laut yang berbatasan dengan Australia.

Naikkan Posisi Tawar

Terkait dengan hal tersebut, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan, keberadaan kapal selam tidak sekadar untuk bertempur, tetapi untuk menaikkan posisi tawar terhadap negara lain.

"Dengan memiliki kapal selam, kita tidak saja bisa memenangkan pertempuran tetapi lebih penting lagi posisi tawar kita terhadap negara lain akibat daya tangkal yang ditimbulkan kapal selam sebagai alat tempur strategis," ujarnya.

Untuk itu, kapal selam yang akan dimiliki Indonesia ke depan minimal memiliki daya tempur dengan spesifikasi yang sama dengan negara-negara lain.

"Dengan begitu, posisi tawar kita akan sama. Orang kalau lihat Indonesia tidak lagi sebelah mata," katanya menegaskan.

Meski pun TNI AL mengharapkan secepat mungkin mendapat tambahan dua kapal selam baru, namun hingga saat ini rencana tersebut masah digodok Departemen Pertahanan (Dephan). Diperkirakan, sekitar tiga setengah tahun lagi baru akan mendapat tambahan kapal selam tersebut.

Sudah ada beberapa negara yang menawarkan kepada Indonesia, antara lain Rusia jenis Kelas Kilo, Korea Selatan (Changbogo), Perancis (Scorpen). Namun, nampaknya Indonesia cenderung akan membeli dari Rusia, karena beberapa waktu yang lalu Dephan pernah menjajaki untuk membeli beberapa jenis persenjataan dari Rusia.

Dua Kapal Selam Perkuat Indonesia Pada 2011

Jakarta (ANTARA News) – Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan, dua kapal selam baru yang akan memperkuat TNI Angkatan Laut paling lambat akan datang pada 2011.

“Namun, dengan tetap menyesuaikan anggaran negara yang tersedia. Kita harus menimbang-nimbang antara kebutuhan kesra, ekonomi dengan polhukam. Karena itu, mudah-mudahan kapal selam bisa datang 2011 dan sedang diupayakan,” katanya menjawab ANTARA News di Jakarta, Senin.

Ditemui usai peluncuran buku “50 Tahun Pengabdian Hiu Kencana” ia mengatakan, pihaknya masih terus menggodok pengadaan dua kapal selam bagi TNI Angkatan Laut termasuk kemungkinan perumusan kontrak pembelian pada Agustus 2009.

“Jika ketersediaan anggaran dimungkinkan ya segera kita proses dan adakan. Karena bagaimana pun prioritas utama pemerintah kan masih kesra dan pemulihan ekonomi,” kata Juwono.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan, dari empat negara yang mengajukan proposal pengadaan kapal selam baru bagi TNI Angkatan Laut, kini tinggal dua negara.

“Dua negara itu adalah Korea Selatan dan Rusia. Ini yang sedang digodok segala kemungkinannya oleh Departemen Pertahanan untuk kemudian ditentukan negara mana yang akan dipilih,” katanya.

Indonesia sebelumnya telah membuka tender bagi pengadaan dua kapal selam baru untuk Kredit Ekspor 2004-2009.

Untuk pengadaan kapal selam TNI AL ada beberapa negara yang menjadi pilihan seperti Jerman (U-209), Korea Selatan (Changbogo), Rusia (Kelas Kilo), dan Perancis (Scorpen).

“Syarat utama yang kita minta dari masing-masing negara adalah adanya transfer teknologi. Jika tidak ada alih teknologi, maka kita drop. Sekarang dari empat tinggal dua negara,” ujar Kasal.