Jakarta, beritabaru.com - PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) segera merakit 10 helikopter merek Bell-412 EP dengan nilai kontrak 115 juta dolar AS, pesanan TNI Angkatan Darat dan Basarnas.
"Jika kontrak dilakukan tahun ini maka tahun ini pula kita akan langsung memulai perakitan," kata Vice President (VP) Marketing and Sales Aircraft Integration PTDI Arie Wibowo di Jakarta, Senin (10/8).
Namun, kata Arie, kontrak ini terbentur pada pencairan dana APBN sehingga proyek baru akan terlaksana tahun 2010. Menurutnya, sekitar 15 persen dari nilai kontrak akan didanai APBN sementara sisanya 85 persen akan dibiayai oleh pihak eksternal di antaranya Bank Exim Amerika Serikat dan BNI.
Arie mengemukakan, untuk merakit satu helikopter diperlukan waktu sedikitnya 18 bulan, tetapi setelah itu, PT DI bisa merakit satu unit tiap dua bulan.
"Itu pun jika pemesanannya sekaligus," katanya.
PTDI menargetkan untuk merakit 22 helikopter merek Bell hingga 2014. Arie menegaskan, pihaknya menetapkan `local content` (kandungan lokal) untuk perakitan helikopter minimal 20 persen dari sisi tenaga kerja (manpower), sistem integrasi, `sertification test` dan lain-lain.
Sebelumnya , PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah memperbaharui lisensi untuk memproduksi helikopter dari produsen helikopter ternama asal AS, Bell Helicopter Textron Inc. PTDI juga telah menjalin kerja sama dan memegang lisensi perakitan helikopter Bell khususnya seri Bell 412 SP dan Bell 412 HP.
Arie mengatakan, pihaknya telah memperbaharui kerja sama dengan Bell yang memungkinkan bagi PTDI untuk merakit helikopter model Bell 412 EP yang sampai saat ini dibuat di Amerika Utara.
"Dalam proses perakitan tersebut, PTDI akan melengkapi helikopter dengan berbagai peralatan dan perlengkapan yang sesuai kebutuhan para pengguna helikopter di Indonesia," katanya.
Di Indonesia saat ini telah dioperasikan 36 helikopter model Bell 412, terdiri dari 27 Bell jenis 412 SP, 4 helikopter Bell-412 HP, dan 5 unit Bell-412EP.
Semua helikopter Bell 412 SP dan Bell 412 HP merupakan helikopter yang dibuat antara 1980-1990 oleh PTDI di bawah lisensi dari Bell Helicopter Amerika.
PTDI mengakhiri kerja sama dengan Bell pada 2000 karena tidak ada permintaan dari pasar dalam negeri khususnya pemerintah
Showing posts with label PTDI. Show all posts
Showing posts with label PTDI. Show all posts
Monday, August 10, 2009
Empat CN-235 Pesanan Korsel Tahun Depan Dikirim
Jakarta (ANTARA News) - PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) akan mengirimkan empat pesawat CN-235 surveilance pesanan Korea Selatan (Korsel) senilai 100 juta dolar AS pada 2010.
"Kita akan mulai deliver pada 2010, order Korea berupa empat pesawat CB-235 surveilance," kata VP Marketing and Sales Aircraft Integration PTDI, Arie Wibowo, di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan, Korea merupakan salah satu negara pemesan CN-235 dengan total order untuk empat pesawat tersebut senilai 100 juta dolar AS.
Saat ini, PTDI memproduksi CN-235 dalam berbagai versi dan telah dioperasikan di beberapa negara selain Indonesia dan Korea.
"Korea, hanya salah satu. Pada dasarnya kita tidak memiliki kompetitor di Asia Pasifik untuk industri kedirgantaraan," katanya.
CN-235 produksi PTDI juga telah dioperasikan di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, UEA, Pakistan, dan Burkina Faso.
Selain itu PTDI juga memproduksi helikopter Super Puma NAS-332 di bawah lisensi Eurocopter (d/h Aerospatiale) Prancis.
PTDI saat ini sahamnya dimiliki seluruhnya oleh Pemerintah RI. BUMN itu berdiri sejak 1976 dan sejak awal telah memproduksi pesawat NC-212, pesawat berpenumpang 19-24 tempat duduk di bawah lisensi EADS CASA Spanyol, dan helikopter NBO-105 di bawah lisensi DASA Eurocopter Jerman.
Sejak 1984, PTDI memproduksi NBell-412 SP dan HP di bawah lisensi Bell Helicopter Textron AS.
"Di samping memproduksi pesawat dan helikopter, kami juga memproduksi komponen struktur pesawat untuk Boeing 737, Boeing 777, Bombardier, Airbus, Mitsubishi Heavy Industry, Eurocopter, dan CTRM Malaysia," katanya.
BUMN itu merupakan satu-satunya perusahaan yang memproduksi dan memasok komponen Inboard-Outboard Fixed Leading Edge (IOFLE) Airbus A 380.
President Director & CEO Bell Helicopter Textron Inc., Ricard J. Millman, berpendapat, PTDI memiliki semua potensi dan kapabilitas untuk menjadi perusahaan kedirgantaraan termasuk produsen dan pemasaran yang menguasai Asia Pasifik.
"Kita akan mulai deliver pada 2010, order Korea berupa empat pesawat CB-235 surveilance," kata VP Marketing and Sales Aircraft Integration PTDI, Arie Wibowo, di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan, Korea merupakan salah satu negara pemesan CN-235 dengan total order untuk empat pesawat tersebut senilai 100 juta dolar AS.
Saat ini, PTDI memproduksi CN-235 dalam berbagai versi dan telah dioperasikan di beberapa negara selain Indonesia dan Korea.
"Korea, hanya salah satu. Pada dasarnya kita tidak memiliki kompetitor di Asia Pasifik untuk industri kedirgantaraan," katanya.
CN-235 produksi PTDI juga telah dioperasikan di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, UEA, Pakistan, dan Burkina Faso.
Selain itu PTDI juga memproduksi helikopter Super Puma NAS-332 di bawah lisensi Eurocopter (d/h Aerospatiale) Prancis.
PTDI saat ini sahamnya dimiliki seluruhnya oleh Pemerintah RI. BUMN itu berdiri sejak 1976 dan sejak awal telah memproduksi pesawat NC-212, pesawat berpenumpang 19-24 tempat duduk di bawah lisensi EADS CASA Spanyol, dan helikopter NBO-105 di bawah lisensi DASA Eurocopter Jerman.
Sejak 1984, PTDI memproduksi NBell-412 SP dan HP di bawah lisensi Bell Helicopter Textron AS.
"Di samping memproduksi pesawat dan helikopter, kami juga memproduksi komponen struktur pesawat untuk Boeing 737, Boeing 777, Bombardier, Airbus, Mitsubishi Heavy Industry, Eurocopter, dan CTRM Malaysia," katanya.
BUMN itu merupakan satu-satunya perusahaan yang memproduksi dan memasok komponen Inboard-Outboard Fixed Leading Edge (IOFLE) Airbus A 380.
President Director & CEO Bell Helicopter Textron Inc., Ricard J. Millman, berpendapat, PTDI memiliki semua potensi dan kapabilitas untuk menjadi perusahaan kedirgantaraan termasuk produsen dan pemasaran yang menguasai Asia Pasifik.
Subscribe to:
Posts (Atom)
